Senin, 19 November 2018

MAKALAH MANAJEMEN INDUSTRI TERNAK POTONG PEMELIHARAAN KERBAU


MANAJEMEN PEMELIHARAAN KERBAU


Oleh :

AMRI MAHBENGI               1605104010065


 i
i
i
i
i
i
i
i
i

FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI PETERNAKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM - BANDA ACEH
2018













BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

           
Peran ternak kerbau bagi kehidupan masyarakat peternak masih sangat penting. Menurut Suhuby (2007) terdapat tiga alasan utama mengapa kerbau mempunyai peran penting. Pertama, ternak kerbau memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kehidupan peternak dan petani di pedesaan sebagai sumber pendapatan asli daerah walaupun tanpa perbaikan pola hidup. Kedua, ternak kerbau masih dapat berproduksi dan bereproduksi dengan baik pada kondisi alam dan agroekosistem yang snagat kritis, misalnya wilayah lahan kering bagian Timur Indonesia (Pulau Sumbawa, Sumba, Flores, dll). Ketiga, ternak kerbau mengubah pakan yang sangat nilai mutu gizinya seperti limbah pertanian dan rumput alam yang bulky dan memiliki kandungan seat kasar yang tinggi, menjadi daging dan susu bagi manusia. Kerbau merupakan ternak yang potensial untuk produksi daging. Karena kerbau memiliki bobot karkas yang lebih tinggi dibandingkan sapi lokal. Bobot hidup kerbau rawa sebesar 370 kg, akan memperoleh bobot potong sebesar 360 kg, dengan karkas panas sebesar 171,5 kg (Miskiyah dan Usmiati, 2009).
            Pada umumnya usaha peternakan kerbau dibagi menjadi dua jenis usaha yaitu, pembibitan dan penggemukan.Usaha pembibitan adalah usaha memperbaiki dan memperbanyak populasi ternak dengan melakukan seleksi terlebih dahulu untuk menghasilkan bibit unggul bagi ternak pada generasi berikutnya. Aspek utama yang harus diperbaiki dalam manajemen pembibitan kerbau adalah penyediaan bibit unggul, peningkatan kualitas pakan, teknik reproduksi, dan pengawasan kesehatan, untuk mendukung perbaikan manajemen pembibitan tersebut diperlukan permodalan, pemasaran, dan aspek penyuluhan (Hendayana dan Matondang, 2010).
            Usaha penggemukan atau yang lebih banyak disebut program finish bertujuan untuk memperbaiki kualitas karkas/daging. Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas tersebut, salah satu diantaranya adalah deposit lemak dalam karkas. Lama proses penggemukan berhubungan dengan pertambahan bobot badan, grade, dan komposisi karkas lemak. Hubungan tersebut yaitu semakin lama penggemukan maka pertambahan bobot badan semakin turun, tetapi persentase karkas meningkat dan mencapai grade prime minimal mencapai grades standart. Lama penggemukan juga berpengaruh pada peningkatan kadar lemak, kadar air menurun, tetapi kadar protein cnderung tetap (Parakkasi, 1999). Penggemukan kerbau menggunakan sistem feedlot adalah cara termurah pada kondisi negara-negara maju seperti Amerika. Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemeliharaan secara feedlot pada ternak kerbau/sapi adalah ketersediaan feeder (kerbau/sapi yang digemukkan), ketersediaan hijauan (segar/kering), konsentrat selama periode penggemukkan, ketersediaan pasar yang baik, dan skill peternak harus terjamin (Parakkasi,1998).  

1.2  Rumusan Masalah

1. Bagaimana Sistem Perkandangan untuk Penggemukan kerbau ?
2. Bagaimana Cara Memilih Bakalan kerbau ?
3. Bagaimana Tata Cara Penggemukan kerbau ?
4. Bagaimana Manajemen Pemberian Pakan, Sanitasi dan Kesehatan untuk Penggemukan kerbau?

1.3 Tujuan
1.    Untuk mengetahui Sistem Perkandangan untuk Penggemukan kerbau
2.    Untuk mengetahui Cara Memilih Bakalan penggemukan kerbau
3.    Untuk mengetahui Tata Cara Penggemukan kerbau
4.    Untuk mengetahui Manajemen Pemberian Pakan, Sanitasi dan Kesehatan kerbau





BAB II Pembahasan
2.1 Jenis Atau Tipe Kerbau
Ternak potong merupakan ternak yang menghasilkan produk akhir brrupa daging, yang tergolong ke dalam ternak potong adalah suatu ternak yang mampu secara genetik meimiliki pertambahan berat badan yang tinggi, pada ternak ruminansia yang paling menonjol sebagai ternak potong adalah sapi dan kerbau.
Kerbau merupakan family Bovinae yaitu hewan berkuku belah, ternak kerbau termasuk ke dalam spesies Bubalus bubalis yang berevolusi dari Bubalis arnee, kerbau liar dari India yang dijumpai pada daerah asam semua tipe kerbau domestikasi yang ada dewasa ini nampaknya diturunkan dari Bubalus arnee, yaitu kerbau liar (Bhattacharya,1993). Indonesia terdapat dua bangsa kerbau lokal, yaitu kerbau lumpur (swamp buffalo) sebanyak 95% dan kerbau sungai (Reverine bufallo) sebanyak 5% (Yurleni, 2000). Kerbau lumpur  adalah kerbau tipe pedaging sedangkan kerbau sungai merupakan kerbau tipe perah. Taksonomi kerbau (Bubalus bubalis) menurut Fahimudin (1975) adalah sebagai berikut:
            Kerajaan          : Animalia
            Filum               : Chordata
            Kelas               : Mamalia
            Ordo                : Arthiodactyla
            Famili              : Bovidae
            Genus              : Bos
            Sub genus        : Bubaline
            Spesies            : Bubalus bubalis


2.1.1 kerbau rawa (gunung)
Kebau gunung /rawa (bubalus bubalis) meupakan kerbau yang  memiliki 24 kromosom, memiliki ukuran tubuh yang besar, warna beerparias, dan suka berendan di dalam kobangan lumpur. Kerbau ini dapat di temui hampir di setiap daerah, di aceh sendiri ada salahsatu spesies kerbau yaitu kerbau gayo. Kerbau lumpur (Bubalus bubalis) termasuk hewan kelas mamalia dan memamah biak dan banyak dikembangkan oleh masyarakat di pedesaan. Kerbau lumpur merupakan salah satu ternak ruminansia yang penting dan mempunyai potensi yang sangat besar sebagai hewan yang multiguna bagi masyarakat Indonesia. Beberapa fungsi penting dari kerbau lumpur adalah sebagai sumber penghasil  daging, susu, dan sumber tenaga kerja (Kierstein et al., 2004).
Kerbau Gayo merupakan salah satu kerbau lokal yang telah ditetapkan sebagai salah satu plasma nutfah negara Indonesia dengan putusan Menteri Pertanian No: 302/Kpts/SR.120/5/2017. Kerbau lokal memiliki keunggulan sebagai salah satu jenis ruminansia yang memiliki peran dan fungsi bagi masyarakat (Nuraini et al., 2010). Menurut Kusnadi et al. (2005). Kerbau Gayo termasuk tipe kerbau lumpur dan telah lama hidup serta telah beradaptasi sangat baik pada lingkungan yang lembab-tropis (tropical humid environment). Kerbau Gayo yang hidup di wilayah Kabupaten Bener Meriah dipelihara oleh masyarakat setempat dengan cara digembalakan di beberapa lokasi peternakan yang meliputi Kecamatan Wih Pesam, Bukit, Syiah Utama, Timang Gajah dan lokasi lainnya yang ada di Kabupaten Bener Meriah (Yunus, 2015).

2.1.2 kerbau sungai (pantai)
Kerbau sungai merupakan kerbau yang biasa berkubang pada sungai yang berair  jernih. pulasinya menyebar dari india sampai ke Mesir dan Gropa (krill tahun 1970) menjelaskan bahwa kerbau sungai umumnya berwarna hitam memiliki tanduk yangkeriting atau melengkung membentuk spiral dan merupakan ternak tipe perah.Kerbau sungai berasal dari india dan fakistan tetapi juga ditemukan di barat dayaAsia dan tenggara Gropa.

2.2 Sistem Pemeliharaan Dan Bentuk Kandang
2.2.1 Sistem Pemeliharaan
a.       Intensif
Sisitem pemeliharaan dimana hampir seluruh waktu dari hewan peternakan tersebut dihabiskan dalam kandang, pakan disediakan oleh peternak secara khusus dalam kandang. Sistem ini sering pula disebut feedlotting (sistem peternakan dengan mengandangkan ternak). Usaha feedlotting pada suatu negara tentu berlainan dengan negara lain terutama yang berhubungan dengan kondisi fisik dan finansial, sehingga diperlukan banyak macam alternatif cara pemecahan problema (baik berupa teknologi maupun peraturan) dimana berhubungan dengan pengelolaan limbah yang dihasilkan, terutama berkaitan dengan kemungkinan timbulnya polusi.
b.      Semi intensif
Dalam sistem ini ternak-ternak dipelihara pada dua macam tempat yaitu pada waktu tertentu dibiarkan di padang penggembalaan (pastura) dan pada waktu tertentu ternaknya dimasukkan ke dalam kandang untuk dipelihara secara intensif.
c.       Exstensif
Sistem pemeliharaan ternak ini membiarkan hewan menghabiskan waktunya di luar kandang mencari makanannya sendiri, Contoh  adalah pada sebuah peternakan sistem ranch terbuka dengan kualitas rerumputan (hijauan) yang relatif kurang baik (karena tidak dipelihara secara khusus), sampai yang cukup baik (dengan pastura yang dipelihara secara baik), ternak dibiarkan mencari makanan di padang. Hasil yang diperoleh dari sistem peternakan ekstensif memang tidak optimal, dan untuk negara yang sudah maju, sistem macam ini sudah mulai ditinggalkan, untuk mencapai efisiensi lebih tinggi dalam sistem beternak.
2.2.2 Bentuk Kandang
Dalam pemeliharaan kerbau potong di perlukan kandang yang berfungsi melindungi ternak dari sinar matahari, hujan dan perubahan cuaca yang tidak mendukung. Beberapa jenis kandang yang sering digunakan dalam usaha ternak kerbau antara lain kandang koloni, kandang individu dan kandang umbaran.
a.      Kandang koloni, digunakan untuk memelihara kerbau yang baru didatangkan dari tempat yang lain, dalam kandang koloni bebrapa ekor kerbau di tempatkan dalam satu kandang agar sifat liar kerbau akan berkurang sedikit demi sedikit, dalam kandang ini kerbau juga beradaptasi dengan lingkungan yang baru kandang koloni bisa berupakan petakan yang terpisah sekat dan tiang kokoh untuk mengikat sapi peliharaan.
b.      Kandang individu digunakan untuk penggemukan kerbau biasanya satu kandang hanya di isi satu ekor sapi dengan ukuran kandang yang sempit agar membatasi ruang gerak ternak kerbau yang ingin di gemukkan.
2.3 memilih bakalan kerbau
Sebelum memulai usaha penggemukan kerbau peternak idealnya menentukan periode penggemukan, dalam pemilihan periode ini berkaitan dengan umur bakalan kerbau yang digunakan. Terdapat 2 periode penggemukan kerbau yaitu long term dan short term. Periode long term atau jangka panjang, kerbau dipelihara minimal 6 bulan berumur 8 bulan sampai 2,5 tahun. Sedangkan jangka pendek atau short term, kerbau dipelihara selama 3 bulan saja. Untuk penggemukan jangka panjang atau long trem dipilih bakalan yang berumur setahun sementara short term dipilih bakalan diatas berumur 2,5 tahun. Kalau untuk umur untuk long term untuk penggemukan jangka panjang biasanya untuk penggemukan 1 sampai 2,5 tahun, tapi kalau umur short term kita ambil dari minimal 2 tahun, 2,5 tahun sampai keatas.

2.4 tata laksana penggemukan
Sebelum dimasukkan dalam kandang perlu di timbang dahulu untuk mengetahui bobot awal kerbau , hal ini penting untuk menentukan jumlah pakan yang akan diberikan nantinya dan agar penambahan bobot badan pada saat panen juga dapat diketahui. Penimbanagn dapat dilakukan di tempat khusus (kandang jepit) pastikan kerbau dalam kondisi terikat agar tidak berontak saat penimbangan yang berakibat pada perubahan angka pada timbangan tidak bergerak lagi catat bobotnya. Pemberian obat cacing juga perlu dilakukan sebelum kerbau digemukkan atau dimasukkan kedalam kandang obat cacing yang diberikan biasanya berupa ipomax yang diaplikasikan melalui zat kutan dibagian ekor dan impran muskiler berdosis tinggi yang disuntikkan di bagian paha belakang.kerbau juga perlu diberikan tanda atau tagged untuk mempermudah pendataan terhadap jumlah populasi yang dimiliki. Tagging atau tanda ini dapat berupa tulisan angka pada sebuah plastic lalu dijepitkan pada telinga sapi, tanda atau tagging juga dapat diberikan dengan menyobek telinga kerbau atau dengan tato disekitar  badan kerbau di bawah pangkal ekor.


2.5 Pemberian pakan
Selama pemeliharaan kerbau perlu diberikan pakan berupa hijauan dan pakan tambahan atau konsentrat, dalam pemberian pakan perlu memperhatikan ketersediaan dan harganya sehingga biaya produksinya rendah. Pemberian pakan idealnya dilakukan sehari 3 kali dan dapat di lakukan secara atlibitum atau tersedia setiap saat agar tercapai ADG (Atfrents Deligens) atau pertumbuhan bobot badan harian (PBBH) antara 1,5 dalam penggemukan short term diberikan pakan berupa 40% hijauan dan 60% konsentrat sementara untuk penggemukan long term diberikan pakan berupa 40% konsentrat dan 60% hijauan. Penambahan premix pada pakan, masukkan bubuk premix sebanyak 2 sendok teh pada wadah pakan, timbang 3 kg konsentrat untuk 2 sendok teh premix, lalu masukkan ke dalam wadah, aduk sampai tercampur rata lalu berikan pada kerbau peliharaan.

2.6 biosecurity dan kesehatan kerbau
Untuk menjaga sanitasi dan kesehatan kerbau lingkungan kandang perlu dibersihkan feses kerbau, feses yang menempel dibersihkan dengan menyeroki disepanjang lantai kandang, feses berikut diangkut dan dibuang di tempat khusus penampungan feses. Kerbau yang dipelihara perlu dimandikan setidaknya 2 hari sekali caranya adalah dengan menyikat seluruh bagian tubuh bagian luar termasuk kaki agar semua kotoran yang menempel akan lepas dari badan kerbau

           




Kesimpulan



DAFTAR PUSTAKA

Arman, C. 2003. Penyigian Karakteristik Reproduksi Kerbau Sumbawa. Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi.

Badan Pusat Statistik Daerah Kabupaten Bener Meriah 2016. Bener Meriah Dalam Angka, Kabupaten Bener Meriah.

Bhattacharya. 1993. Dalam : Williamson, W. G. A dan W. J.A Payne (Ed).Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gajah Mada University Press.Yogyakarta.

Camoens, J. K. 1976. The buffalo in Malaysia.Min. of Agric. Bulletin no 145.

Chantalakhana, C.1978. Breeding improvement of swam buffaloes for small fram in South East Asia. In : Buffalo production and artificial insemination. FAO of The UN. Rome.

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bener Meriah (2016). Kerbau Gayo.

Fahimuddin. M, 1975. Domestic Water Buffalo. Gulab Pirumuli-Oxford, IBH Publishing Co. G. G. Joupatth-New Delhi.

Fayed, R., 2008. Puberty and Maturity in: Buffalo Sexual and Maternal Behaviour. Ethology, Faculty of Veterinary Medicine, Cairo University.

Gordon, I. 1996. Controlled Reproduction in Cattle and Buffalo. CAB International, 438.

Guzman, W.R. 1980. An Overview of Recent Development in Buffalo Research and Management in Asia. Buffalo Production for Small Farms. ASPAC. Taipei.
 September, 2006.






penentuan kadar protein kasar susu


Laporan Teknologi Produksi Ternak Perah
PENENTUAN KADAR PROTEIN KASAR SUSU


Oleh :
Amri Mahbengi
NIM.1605104010065








FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI PETERNAKAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM - BANDA ACEH
2018

KATA PENGANTAR


        Alhamdulillah segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan Laporan Teknologi Produksi Ternak Perah ini. Laporan ini disusun berdasarkan hasil dari praktikum mata kuliah Teknoloogi Produksi Ternak Perah pertemuan ke II tepat pada tanggal 15 november 2018 pukul 10.00 sd selesai.
Penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada koordinator praktikum mata kuliah Teknologi Produksi Ternak Perah Dr. Ir. Dzarnisa, M.Si. beserta asisten laboratorium yang telah membimbing dan mengarahkan dalam pembuatan kegiatan praktikum berlangsung. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kesalahan dan tidak sempurna, maka dari itu penulis berharap akan masukan, kritik dan saran dari semua pihak yang telah membaca laporan ini.
Adapun harapan dari penulis agar laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah wawasan penulis, semua kebenaran yang terkandung di laporan ini semata-mata hanyalah berkat kemurahan-Nya dalam menuntun penulis menuju kebenaran, sedangkan segala kekeliruan yang terdapat di sini sepenuhnya bersumber dari dan menjadi tanggung jawab penulis. Akhir kapa penulis mengucapkan.
terimakasih
           



Banda Aceh, 02 November 2018

              Penulis
       Amri Mahbengi


 

Daftar Isi




BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Susu adalah hasil sekresi kelenjar mammae hewan mamalia selama masa yang tidak dikurangi atau ditambah apapun kedalamnya yang diperoleh melalui hasil pemerahan dari hewan tersebut yang sehat secara kontinyu dan sekaligus.
Mahluk hidup yang berkatagori sebagai mamalia umumnya memiliki kelenjar susu. Ada beberapa mahlukhidup dapat memproduksi susu dengan baik dan ada beberapa jenis mahluk hidup memiliki susu namun tidak dapat memproduksi secara besar. Susu dapat di golongkan dari asalnya. Seperti susu sapi , susu kambing, susu kerbau, susu unta, susu kuda dan masih banyak lagi. Setiap susu tersebut memiliki fisik dan unsur hara yang terkandung di dalam nya  yang berbeda – beda.  Seperti unsur atau kamdungan protein yang berada di dalam nya. Untuk mengetahui beberapa kandungan protein kasar di dalam susu, tentunya harus memiliki alat erlenmeyer, berbentuk seperti pengapung yang dapat membaca berat jenis suatu susu.



Tujuan Praktikum

Untuk menentukan kadar protein kasar pada susu.

 





BAB II. TINJAUAN PUSTAKA




Susu segar yang akan diminum harus melalui pasteurisasi terlebih dahulu guna mencegah penularan penyakit dan mencegah penularan penyakit dan mencegah kerusakan karena mikroorganisme. Dalam proses pasteurisasi, susu dipanaskan pada suhu 65oCelcius selama 30 menit. Laktosa adalah satu-satunya karbohidrat pada susu. Secara kimia sebuah molekul dari laktosa diproduksi dari gabungan antara stu glukosa dan satu galaktosa sisa yang dihasilkan oleh sebuah α-lactalbumin yang bergantung pada enzim. Galaktosa dalah derivat hampir sama seperti glukosa tetapi bagian kecil yang bersal dari asetat dan gliserol (Mc Donald, et. al., 2002).
Warna susu putih kebiru-biruan disebabkan oleh pemantulan cahaya oleh globula lemak yang terdispersi, kalsium kaseinat, dan koloidal. Susu yang lemaknya telah dihilangkan atau yang kadar lemaknya rendah warna kebiru-biruan lebih nampak. Warna karoten yang menyebabkan warna kuning susu, pada hewan yang memproduksi yang berwarna kuning pada susu juga mempunyai warna yang sangat tinggi dalam lemak. Lactochrome atau ribovlafin terdapat pada larutan susu terlihat pada whey yang memperlihatkan warna kehijau-hijauan, pada susu normal warna ini tertutup oleh unsur susu (Muchtadi, dkk., 2010).
Walaupun tanpa pemberian suatu apapun, rasa susu sedikit manis, dengan aroma agak harum serta berbau susu. Bau khas susu akan hilang atau berkurang apabila susu dipanaskan atau dibiarkan pada tempat yang kena udara. Di samping itu, susu merupakan dua lapisan yang dapat dipisahakan yaitu kepala susu dan skim. Bagian paling atas dari susu adalah krim yang beratnya lebih ringan dari skim dan krim akan tampak jelas pada susu yang baru diperah dan dibiarkan 20-30 menit(Sirajuddin, dkk., 2012).
Ciri khas susu yang baik dan normal adalah susu tersebut terdiri dari konversi warna kolostrum yang berwarna kuning dengan warna air susu yaitu putih, jadi susu normal itu berwarna putih kekuning-kuningan. Kriteria lainnya adalah jika berwarna biru maka susu telah tercampur air, jika berwarna kuning maka susu mengandung karoten, dan jika berwarna merah maka susu tercampur dengan darah (Yusuf 2010).

Uji Bau
              Setelah susu dipanaskan dalam tabung reaksi, maka susu mengeluarkan aroma yang spesifik dimana bau susu yang dipanaskan lebih tajam daripada susu yang tidak dipanaskan. Dalam 100% susu terdapat 40 % kadar kemurnian warna susu dan juga bau susu yang mencirikan untuk susu yang normal, selebihnya 60 % untuk zat makanan sebagai pelengkap cita rasa yang terdapat di dalam susu tersebut (Yusuf 2010).

Uji Rasa
Susu agak manis diakibatkan karena kandungan karbohidratnya yang cukup tinggi, khususnya untuk golongan laktosa. Susu dari segi rasa mengandung susu yang agak manis untuk dikatakan normal selebihnya banyak kelaianan di dalam susu yang tidak bermanfaat bagi tubuh (Yusuf 2010).

Uji Warna
Ciri khas susu yang baik dan normal adalah susu tersebut terdiri dari konversi warna kolostrum yang berwarna kuning dengan warna air susu yaitu putih, jadi susu normal itu berwarna putih kekuning-kuningan. Kriteria lainnya adalah jika berwarna biru maka susu telah tercampur air, jika berwarna kuning maka susu mengandung karoten, dan jika berwarna merah maka susu tercampur dengan darah (Yusuf 2010).



BAB III METODELOGI

3.1. Waktu Praktikum

            Pelakasanaan Praktikum Pemeriksaan Sifat Fisik Susu dilaksanakan pada tanggal 1 November 2018, pukul 10.00 WIB sampai dengan 12.00 WIB.

3.2. Tempat Praktikum

            Tempat pelaksanaan praktikum Pemeriksaan Sifat Fisik Susu dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Dan Teknologi Produksi Ternak Perah, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala.

3.3. Alat dan Bahan Praktikum

                3.3.1. Alat Praktikum

·         Tabung reaksi, kapas penutup, penjepit tabung
·         Kertas putih
·         Erlenmeyer
·         Pembakar bunsen

                3.3.2. Bahan Praktikum

·         Susu sapi
·         Susu kambing
·         Susu bubuk komersil yang direkonstitusi

3.4. Cara Kerja

                3.4.1. Uji Warna

1.      Masukkan beberapa liter susu ke dalam tabung reaksi, perhatikan warnanya dan catat hasilnya.
2.      Untuk mempertegas warna, dapat diberi latar belakang kertas putih.

                3.4.2. Uji Rasa

1.      Teteskan beberapa tetes susu pada telapak tangan dan lakukan pengecepan dengan seksama, catat hasilnya.
2.      Apabila terjadi perubahan rasa, misalnya asam, menunjukkan telah terjadi pembusukan susu.

                3.4.3. Uji Konsistensi

1.      Masukkan 20-50 ml susu ke dalam tabung erlenmeyer.
2.      Tabung digoyang perlahan-lahan

                3.4.4. Uji Bau

1.      Masukkan susu ke dalam tabung reaksi dan tutup pakai kapas.
2.      Kemudian susu dipanaskan di atas pembakar bunsen.
3.      Setelah mencapai suhu kurang lebih 350C tabung reaksi digoyang perlahan-lahan.
4.      Buka tutup kapas dan lakukan pembauan, catat hasilnya.



BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Susu merupakan salah satu bahan makanan yang mengandung komponen protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan kelengkapan komponen dikandung oleh susu memberikan suatu alternatif pemecahan dalam peningkatan gizi masyarakat. Susu dapat diperoleh dari hasil  dari olahan ternak perah seperti sapi, kambing, kerbau dan juga kuda, dari hasil tersebut diolah sampai mendapatkan hasil yang bersih dan baik. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat Hadiwiyoto ( 1983 ), yang menyatakan bahwa Susu adalah hasil pemerahan sapi atau hewan menyusui lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai makanan yang sehat secara kontinu serta di dalamnya tidak ditambah atau dikurangi komponen-komponen di dalam susu.

Susu merupakan salah satu produk ternak yang dijadikan bahan makanan yang sangat baik dan memiliki kandungan gizi yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Kosman ( 2004 ), yang menyatakan bahwa Susu adalah sebagai salah satu produk hasil ternak yang merupakan bahan makanan yang baik bagi kesehatan tubuh manusia karena memiliki nilai gizi yang tinggi.

Salah satu cara untuk mengetahui kualitas susu yang baik adalah dengan uji organoleptik atau uji sensoris. Uji organoleptik adalah cara menilai mutu suatu bahan makanan atau minuman menggunakan panca indera.panca indera yang diguanakan pada praktikum kali ini adalah mata untuk melihat warna susu, lidah untuk merasakan atau menilai tekstur dan rasa dari susu, serta hidung untuk mencium aroma dari susu tersebut.

Pada kode sampel  yaitu A susu kambing , didapat bahwa warna dari susu kambing ini berwarna putih, rasanya anggir, tengik/hambar,amis , konsistensinya terdapat endapan di dinding dan baunya perenggus,amis. Pada kode B susu sapi, didapat warna putih kekuningan, warna putih disebabkan karena refleksi sinar matahari dengan adanya butiran lemak, protein dan garam. Rasa dari susu sapi, ambar sedikit manis, konsistensinya hanya sedikit endapan di dinding dan baunya manis tapi tidak sewangi sample C. Pada kode C susu rekonstitusi didapat sedikit manis karena laktosa yang dikandungnya dan berwarna putih kekuningan. Rasanya manis, konsistensinya terdapat endapan didinding, baunya wangi manis(lebih manis dari sample B).

Dari hasil yang didapat diatas ditemukan bahwa setiap susu memiliki warna yang berbeda beda. Perbedaan warna ini tidak lepas dari perbedaan bahan tambahan yang ditambahkan dalam bahan seperti cokelat dan stoberi yang ditambahkan, akan mempengaruhi warna susu yaitu menjadi warna  cokelat dan pink. Dari perbedaan zat tambahan yang ditambahkan pada susu, maka akan membuat rasa, tekstur, aroma dan daya terima susu. Perbedaan yang paling terlihat yaitu poerbedaan tekstur dari masing – masing susu tersebut. Selera yang didapat dari masing – masing panelis ini adalah berdasarkan tingkat kepekaan dari masing – masing panelis dalam menilai susu tersebut. Hal ini sesuiai dengan (Rahardjo, 1998) bahwa pencicip atau panelis biasanya mempunyai perbedaan respon kepekaan (putting pencicip) terhadap menilai sesuatu bahan makanan yang berbeda. Dari hasil diatas, juga dilihat bahwa susu yang digunakan adalah susu yang berkualitas baik dan tidak basi karena hasil yang diatas tidak terdapat susu yang terlihat tidak baik yaitu sangat tidak enak dan tidak sedap. Karena menurut (Bucke, dkk : 1985) bahwa susu mngandung unsure – unsure yang dsebagian besar juga diperlukan bagi pertumbuhan bakteri, hal ini bisa ditandai dengan susu yang memiliki rasa yang masam dan bau.

 




BAB V. PENUTUP

5.1. Kesimpulan

            Sifat fisik susu berarti sifat-sifat atau karakteristik susu yang dapat dilihat secara visual. Sifat fisik susu inilah yang bisa menentukan kualitas pada produksi susu itu sendiri dan kelayakan susu tersebut untuk di konsumsi. Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, panas jenis dan kekentalannya yang sesuai dengan standar sifat fisik susu yang layak dikonsumsi. Banyak faktor yang menyebabkan kerusakan sifat fisik susu, diantaranya faktor fisiologis seperti cita rasa pakan sapi, faktor enzim yang menghasilkan cita rasa tengik karena kegiatan lipase pada lemak susu, faktor kimiawi yang disebabkan oleh oksidasi lemak, faktor pencemaran bakteri yang timbul yang menyebabkan peragian laktosa menjadi asam laktat dan hasil samping metabolik lainnya yang mudah menguap, dan faktor mekanis bila susu mungkin menyerap cita yang ada pada tempat susu berada.    




DAFTAR PUSTAKA


Buckle, K.A., dkk. 1985. Ilmu Pangan. Jakarta: Universitas Indonesia.


Hadiwiyoto, S. 1983. Tehnik Uji Mutu Susu dan Hasil Olahannya. Liberty,            Yogyakarta

Khosman, Ali, Prof. Dr. Ir. 2004. Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: PT    Raja Grafindo Persada.

Mc Donald, P. 2002. Animal Nutrition. John Wiley & Sons, Inc., New York.


Muchtadi, Tien R. Prof. Dr. Ir. M.S, dkk. 2010. Ilmu Pengetahuan Bahan   Pangan. Bogor:Alfabeta, CV.

Rahardjo, Tri S., W. Suryapratama, Munasik, dan T. Widiyastuti. 1998. Bahan       Kuliah Ilmu Bahan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan, Universitas   Jenderal Soedirman. Purwokerto.

Robinson, D. S. 1987. Food: Biochemistry and Nutritional Value. John Wiley &    Sons, Inc., New York.

Sirajuddin, Saifuddin. Dr. MS, dkk. 2012. Pedoman Praktikum Analisis Bahan      Makanan. Makassar: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas  Hasanuddin
Yusuf R.2010. Kandungan protein susu sapi perah friesian holstein akibat  pemberian        pakan yang mengandung tepung katu (sauropus androgynus       (l.)  merr) yang berbeda. Jurnal. Jurnal Teknologi Pertanian volume        6 nomor 1 halaman 1-6.